Fobia Berlibur! Waspadai Bahaya Stres Pada Karyawan Milenial

Dalam sejumlah kasus, tidak sedikit karyawan milenial yang tidak mau mengambil cuti liburan karena takut dicap sebagai karyawan yang malas.

Padahal, sebagai karyawan yang aktif bekerja setiap hari, terutama di industri kreatif, otak tentunya membutuhkan sarana rekreasi untuk menyegarkan pikiran. Liburan seringkali dianggap sebagai “kemewahan”.

Karena itu, banyak karyawan yang sangat sungkan meminta cuti liburan kepada atasan.   Bahkan, karyawan bisa merasa sangat gelisah, stres dan merasa bersalah jika mengambil cuti liburan selama beberapa hari.

Kasus lain adalah budaya toxic di tempat kerja sebelumnya yang menuntut karyawan tetap kerja lembur di akhir pekan, dan membolehkan karyawan bekerja dari rumah ketika sedang sakit.

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Banyak kalangan profesional yang tidak benar – benar menikmati cuti liburan karena enggan meninggalkan pekerjaan. Mereka berpikir, perusahaan akan memecat mereka jika mereka mengambil hak cuti tahunan.

Jadi, ketika karyawan tidak memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan, ada tekanan bahwa setiap karyawan harus tetap bekerja dan melakukan hal – hal produktif.

Banyak karyawan yang ketakutan jika sering mengambil cuti, peluang karir mereka akan menurun dan harus mulai karir dari nol lagi.

Sementara itu, stres karena terus bekerja tanpa jeda atau mengambil liburan, malah membuat banyak karyawan merasa tidak produktif. Mereka stres, lesu, cemas, tidak termotivasi, dan mempertanyakan hasil atau kualitas pekerjaannya.

Penelitian Tentang Penyebab Karyawan Tidak Produktif

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Skyscanner dan WorkScore mensurvei 1.000 warga Australia. Ditemukan bahwa 30 persen pekerja mengalami kelelahan dan 32 persen mengatakan tingkat stres mereka meningkat ketika mereka tidak mengambil cuti liburan.

12 persen lebih lanjut merasa seolah-olah tempat kerja mereka mencegah mereka mengambil cuti tahunan.

Beberapa responden survei yang mengambil cuti liburan mengatakan bahwa mereka merasa cemas atau bersalah karena melakukannya (45 persen) dan setengah dari mereka yang disurvei mengaku memeriksa email pekerjaan mereka secara teratur saat liburan (50%).

Gejala Stres atau Kejenuhan Saat Bekerja

Menurut Dr Libby Sander, Asisten Profesor Perilaku Organisasi di Universitas Bond, gejala kelelahan kerja dapat berupa: sakit kepala, kelelahan, kurangnya motivasi dan meningkatnya rasa sinis tentang tugas-tugas pekerjaan.

Dr Sander mengatakan bahwa “sangat penting” bagi karyawan atau pekerja untuk  mengambil liburan yang tenang setiap tahun untuk membantu menghindari gejala fisik dan mental tersebut.

“Ada penelitian baru-baru ini yang menunjukkan bahwa secara teratur bekerja lebih dari sepuluh jam sehari, selama lebih dari 50 hari setahun dapat mengarah pada peningkatan risiko stroke yang signifikan,” jelasnya, mengutip hasil dari penelitian Perancis ini.

Bagaimana Cara Menghindari Kejenuhan?

Meskipun mengambil cuti tahunan adalah kesempatan untuk menyegarkan pikiran dan fisik, perhatikan juga bagaimana kebiasaan kerja yang sehat sepanjang tahun. Karena, dengan cara ini Anda bisa menghindari kejenuhan atau kelelahan akibat bekerja.

Selain itu, makanlah dengan pola makan sehat, teratur dan beristirahat secukupnya (8 jam setiap hari). Berjalan kaki singkat setelah makan siang atau menikmati udara segar sangat signifikan dalam menekan stres pekerjaan.

Perusahaan juga harus mendorong karyawan untuk mengambil cuti liburan demi meningkatkan produktivitas bisnisnya. Berkomunikasilah dengan karyawan tentang mengelola stres di tempat kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.