Leadership era Milenial, Apa Keterampilan Utama yang Dibutuhkan Manager?

Menurut Pew Research Center, milenial tertua berusia 38 tahun pada 2019, dengan usia kepala 4. Seiring bertambahnya usia milenial, semakin banyak karyawan dari generasi itu yang pindah ke posisi kepemimpinan.

Tidak sekadar naik jabatan,  milenial juga mengubah praktik kepemimpinan konvensional. Di mana baby boomer mengadopsi lebih banyak metode kepemimpinan otokratis, memberikan instruksi dan mengikuti kebijakan, generasi milenial mengelola kepemimpinan secara lebih kolaboratif, memperoleh umpan balik dari karyawan sehingga perusahaan dapat mencapai hasil yang lebih baik.

Untuk memenuhi kebutuhan angkatan kerja milenial, perusahaan dan pemimpin perlu menyadari beberapa persyaratan berikut.

1. Umpan Balik

Milenial, sebagai generasi, menerapkan metode kolaboratif. Mereka lebih suka bekerja dalam tim dan berbagi ide. Mengenai para pemimpin, milenial ingin bekerja berdampingan dengan manajemen perusahaan, memberi mereka kesempatan untuk  karyawan bersuara dan berpendapat.

Lebih lanjut, kaum milenial membutuhkan umpan balik tentang kinerja mereka, sehingga mereka dapat terus meningkatkan dan memperbaiki diri mereka sendiri, baik secara pribadi maupun profesional.

Milenial menuntut umpan balik teratur. Mereka tidak ingin menunggu sampai peninjauan akhir tahun tradisional. Saat memberikan umpan balik kepada karyawan milenial, pengusaha harus mempertimbangkan harapan dan tujuan generasi ini.

Selanjutnya, mintalah manajer memeriksa secara teratur kinerja karyawan, memberi mereka kesempatan untuk menyuarakan pertanyaan dan masalah mereka.

2. Merangkul Teknologi

Generasi milenial mengerti teknologi. Mereka tumbuh dengan teknologi dan berharap untuk menggunakan sistem komputer modern yang progresif di tempat kerja. Bisnis yang belum mengadopsi teknologi baru akan menemukan tingkat turnover mereka lebih tinggi daripada pesaing yang merangkul mobile, kecerdasan buatan, dan chatting.

Generasi Millenial tidak ragu-ragu untuk berganti pekerjaan jika perusahaan tidak memenuhi standar (mereka). Menurut jajak pendapat Gallup baru-baru ini, 21% dari milenium melaporkan bahwa mereka telah berganti pekerjaan dalam satu tahun terakhir, tiga kali lebih banyak daripada yang bukan milenium.

Sejalan dengan itu, perusahaan harus mempertimbangkan konferensi video dan papan tulis interaktif, yang memungkinkan karyawan untuk berkolaborasi dan mengunduh rapat atau dokumen ke dalam file video atau PDF.

3. Membutuhkan Keragaman Dan Inklusi

Milenial mewakili generasi yang paling beragam dan inklusif sejauh ini. Kebanyakan generasi milenial tidak hanya menghargai tetapi menikmati percakapan dan interaksi dengan orang-orang dari budaya lain, ras, jenis kelamin atau latar belakang.

Milenial telah dibesarkan dengan internet, membuat mereka lebih sadar akan lingkungan lokal dan global mereka. Mereka juga lebih nyaman dengan pendapat atau kepercayaan yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Selain itu, milenium mendambakan tempat kerja di mana setiap orang dihargai dan didengar. Karena faktor pendorong ini, milenium menganut definisi keanekaragaman dan inklusi yang lebih luas daripada karyawan yang lebih senior.

4. Kejar Lebih Banyak Pelatihan dan Pengembangan

Milenial juga ingin melanjutkan pelatihan dan pengembangan. Sebagai karyawan, mereka sering menyadari kekuatan dan kelemahan mereka, tetapi mereka ingin terus meningkat. Meskipun banyak milenial berpikir mereka siap memimpin, mereka juga mendambakan pelatihan tambahan.

Semakin banyak perusahaan dapat melatih milenial tentang pekerjaan mereka melalui kesempatan bimbingan atau e-learning, semakin banyak generasi ini akan berkembang.

Selain hard skill, pengusaha harus mendorong pengembangan soft skill milenial, seperti komunikasi dan pemecahan masalah.

Melalui kelas online, pembelajaran bergerak, atau bimbingan. Saat pelatihan, pengusaha harus melihat seluruh karyawan.

***

Untuk menciptakan pemimpin masa depan, pengusaha harus meninggalkan mentalitas “selalu seperti ini”. Keterampilan kepemimpinan yang bekerja 20 tahun yang lalu, atau bahkan lima tahun yang lalu, tidak berlaku di tempat kerja yang serba cepat dan selalu berubah saat ini.

Milenial bukan lagi anak-anak baru di dunia kerja. Perusahaan perlu mempersiapkan mereka untuk mengambil kendali dalam dunia bisnis modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.